Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman bawang merah
![]() |
| bawang merah |
Salah satu Cara yang paling umum dilakukan para petani bawang merah dalam mengendalikan serangan hama dan penyakit bawang merah adalah dengan menggunakan pestisida,dengan beranggapan bahwa pestisida dapat menjamin keberhasilan usaha tani.Akibatnya petani menggunakan pestisida dengan cara meningkatkan takaran,frekuensi,jenis dan komposisi pestisida secara berlebihan.
Untuk mengatasi masalah tersebut,penerapan teknologi pengendalian hama terpadu merupakan alternatif yang tepat yaitu dengan mengkombinasikan beberapa cara pengendalian yang secara ekonomi,ekologi dan sosial dapat dipertanggung jawabkan.Tujuan akhir dari konsep PHT (Pengendalian Hama Terpadu) adalah memperoleh hasil panen yang optimal dengan kualitas dan bermutu tinggi,biaya produksi yang rendah serta mempertimbangkan faktor ekologi dan kondisi sosial para petani.Untuk menerapkan PHT pada tanaman bawang merah dipekenalkan gejala serangan serta beberapa cara pengendalianya.
Berbagai macam hama penting pada Tanaman Bawang Merah:
Ulat Bawang atau ulat grayak
Gejala serangan:
Bagian tanaman yang terserang terutama adalah daunya,tetapi apabila populasi ulat(larva)sangat banyak,maka akan menyerang umbi.Ulat yang baru menetas segera akan melubangi daun bagian ujung,masuk dan makan daging daun bagian dalam,sehingga pada daun terlihat bercak berwarna putih transparan.Akibatnya daun terkulai dan kering.
Siklus hidup ulat bawang sekitar 15-18 hari.Ngengat betina (kupu)mulai bertelur pada umur 2-10 hari.Telur diletakkan berkelompok pada permukaan daun/batang dan tertutup oleh bulu-bulu atau sisik coklatmuda.Tiap kelompok telur:80 butir.Jumlah telur yang dihasilkan seekor ngengat betina kurang lebih sekitar 500-600 butir.Stadium telur berlangsung 2 hari,larva 8-11 hari dan pupa 5 hari.Tanaman inang lain selain bawang merah adalah golongan cabai,kapas dan jagung.
Pengendalian:
pergiliran tanaman
Penanaman serentak
Mengumpulkan dan memusnahkan:ngengat,telur ulat yang ditemukan
Penggunaan varietas(varietas Sumenep)
Pemasangan perangkap dengan Feromoid seks sebanyak 40/bh/ha/bl
Aplikasi pestisida nabati,seperti serbuk biji mimba 30g/l,setiap 3 hari sekali
Pelestarian musuh alami,(capung dan kepik)
Aplikasi pestisida yang selektif dan efektif,dilakukan apabila telah ditemukan ulat/10 tanaman atau 5% kerusakan tanaman
Berbagai macam Penyakit Penting pada Tanaman Bawang Merah:
1.Penyakit antraknos (Coletotrichum gloesporioides)
Gejala serangan:
Tanaman yang terinfeksi dapat mati secara serentak.Serangan awal ditandai dengan terlihatnya bercak berwarna putih pada daun,selanjutnya terbentuk lekukan kedalam,berlubang &patah,karena daun terkulai tepat pada bercak.Infeksi lanjut akan terbentuk spora yang berwarna merah muda,berubah menjadi coklat muda,tua dan akhirnya kehitam - hitaman.Apabila kelembaban udara tinggi,terutama dimusim penghujan spora cepat menyebar dipermukaan tanah & menginfeksi inang disekitarnya.
Spora tersebar debgan bantuan angin dan hujan lebat & apabila jatuj pada tanaman inang,spora akan berkecambah & masuk kebagian epidemis daun.
Pengendalian:
Rotasi dengan tanaman selain jenis bawang,kacang,labu &terung
Penanaman dimusin kemarau
Kebersihan kebun
Menanam varietas relatif tahan (Sumenep)
Aplikasi pestisida nabati,seperti serbuk biji mimba 30 gram perliter setiap 3 hari sekali
Aplikasi fungisida yang selektif dan efektif,apabila terjadi kerusakan pada tanaman
2.Penyakit moler atau layu (Fusarium Oxysporum)
Gejala serangan:
Bagian tanaman yang diserang adalah bagian dasar umbi lapis,sehingga pertumbuhan akar & umbi terganggu.
Gejala yang terlihat pada daun:
Daun menguning & cenderung terpelintir
Tanaman mudah tercabut dan bahkan membusuk
Pada dasar umbi terlihat cendawan berwarna keputih-putihan,serangan yang berlanjut akan menyebabkan tanaman mati.
Jamur mampu bertahan hidup lama didalam tamah & bersifat tular tanah,Selain itu juga ditularkan oleh air pengairan dari tanah terkontaminasi.Infeksi pada umbi bibit dapat terbawa & tersebar di lapangan.
Pengendalian:
Hindari menanam bawang merah di lahan bekas penyakit moler
Perbaikan sistem drainase lahan
Menenam umbi yang bebas penyakit dan
Mencabut tanaman yang terinfeksi
3.Penyakit trotol (Altemaria Porri)
Gejala serangan:
Pada daun terdapat bercak berwarna kelabu dengan pusat yang berwarna ungu,Melekuk ke dalam dengan lingkaran konsentris,yang semakin melebar dan semakin menipis.Koloni spora hitam teratur pada lingkaran-lingkaran.
Kondisi cuaca lembab,mendung,hujan rintik-rintik dengan kelembaban udara mencapai >90& dapat membentuk sporulasi spora disebarkan oleh angin & apabila spora jatuh ke permukaan tanaman inang,akan berkecambah & menginfeksi jaringan tanaman lewat stomata atau luka pada epidermis,Penyakit dapat ditularkan melalui udara dan bibit.
Pengendalian:
Sama dengan penyakit Antraknos
Penyiraman setelah turun hujan sangat dianjurkan,untuk mencegah kemungkinan menempelnya spora pada permukaan daun akibat percikan tanah.
semoga bermanfaat untuk petani dan calon pertani,, tolong di share.
Pengendalian hama dan penyakit pada tanaman bawang merah
Posted by pengendalian hama terpadu on Thursday, March 24, 2016
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PERANGKAP LAMPU (LIGHT TRAP)
PENGENDALIAN HAMA TERPADU PADA KOMODITAS BAWANG MERAH DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM PERANGKAP LAMPU (LIGHT TRAP)
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan nasional yang sejak lama diusahakan oleh petani secara intensif. Komoditas ini merupakan sumber pendapatan dan kesempatan kerja yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap perkembangan ekonomi wilayah (Rp 2,7 triliun/tahun) dengan potensi pengembangan areal cukup luas mencapai ± 90.000 ha (Dirjen Hortikultura, 2005).
Bawang merah merupakan salah satu komoditas sayuran unggulan yang sangat fluktuatif harga maupun produksinya. Hal ini terjadi karena pasokan produksi yang tidak seimbang antara panenan pada musimnya serta panenan di luar musim, salah satu diantaranya disebabkan tingginya intensitas serangan hama dan penyakit terutama bila penanaman dilakukan di luar musim. Selain itu bawang merah merupakan komoditas yang tidak dapat disimpan lama, hanya bertahan 3-4 bulan padahal konsumen membutuhkannya setiap saat (Baswarsiati et al, 1997).
Dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri dan untuk ekspor diperlukan produk yang mempunyai kualitas baik dan aman dikonsumsi. Untuk memenuhi hal tersebut maka proses produksi perlu dilakukan secara baik sesuai Standar Prosedur Operasional (SPO) berbasis norma budidaya yang baik dan benar (Good Agriculture Practices/GAP). Sehingga diharapkan tidak banyak lagi petani yang melakukan proses produksi tanpa memperhatikan hal tersebut karena efisiensi ekonomis tidak akan diperoleh jika tetap menggunakan pestisida dan pemupukan anorganik secara berlebihan sehingga tidak efisien.
Banyak kendala yang dihadapi oleh petani dalam berusaha tani bawang merah. Hama yang selalu mengintai dilapangan dan siap untuk menyerbu serta menghancurkan tanaman bawang merah, membuat petani bawang merah dituntut untuk memiliki ketrampilan dan pengetahuan dalam mengenal hama dan penyakit, gejala serangan dan upaya pengendaliannya. Hama Spodoptera exigua Hubn. merupakan salah satu penyebab terjadinya kehilangan hasil panen bawang merah. Serangan hama ini hampir selalu terjadi pada setiap musim tanam. Kehilangan hasil panen akibat serangan hama ini dapat mencapai 62,98 % bahkan kegagalan panen.
![]() |
| bawang merah |
Salah satu tehnik pengendalian yang sekarang dikembangkan adalah penggunaan lampu perangkap, yang disesuaikan dengan sifat imago yang aktif malam hari dan tertarik dengan cahaya lampu:
Hama penting yang menyerang tanaman bawang merah antara lain ulat bawang (Spodoptera exigua), lalat pengorok daun (Liriomyza chinensis), Thrips (Thrips tabaci), dan ulat grayak (Spodoptera litura). Potensi kehilangan hasil oleh OPT utama bawang merah dapat mencapai 138,4 milyar pada tahun 2004 dan menduduki peringkat pertama dibandingkan komoditas sayur lainnya seperti cabai, kubis, kentang dan tomat. Kehilangan hasil karena OPT tersebut dapat mencapai 20 – 100 %.
Selain penggunaan kerodong kasa, petani Nganjuk juga berkiprah dalam menggunakan trap dengan lampu untuk mengendalikan hama ulat bawang. Hasilnya sangat menggembirakan karena dapat menekan tingkat kerusakan hingga 74-81 %. Perangkap lampu neon (TL 10 watt) dengan waktu nyala jam 18.00 sampai jam 24.00 paling efisien untuk menangkap imago dan menekan seranganSpodoptera exigua pada bawang merah. Implementasi penggunaan lampu perangkap pada luasan 1 ha dibutuhkan 30 titik, jarak pemasangan 20 m x 15 m. Waktu pemasangan dan penyalaan lampu 1 minggu sebelum tanam sampai dengan menjelang panen (60 hari) Tinggi pemasangan lampu antara 10-15 cm di atas bak perangkapedangkan mulut bak perangkap tidak boleh lebih dari 40 cm di atas pucuk tanaman bawang merah.
Selain penggunaan kerodong kasa, petani Nganjuk juga berkiprah dalam menggunakan trap dengan lampu untuk mengendalikan hama ulat bawang. Hasilnya sangat menggembirakan karena dapat menekan tingkat kerusakan hingga 74-81 %. Perangkap lampu neon (TL 10 watt) dengan waktu nyala jam 18.00 sampai jam 24.00 paling efisien untuk menangkap imago dan menekan seranganSpodoptera exigua pada bawang merah. Implementasi penggunaan lampu perangkap pada luasan 1 ha dibutuhkan 30 titik, jarak pemasangan 20 m x 15 m. Waktu pemasangan dan penyalaan lampu 1 minggu sebelum tanam sampai dengan menjelang panen (60 hari) Tinggi pemasangan lampu antara 10-15 cm di atas bak perangkapedangkan mulut bak perangkap tidak boleh lebih dari 40 cm di atas pucuk tanaman bawang merah.
Model Pembangunan pertanian yang terdapat di Kabupaten Nganjuk ialah model inovasi. Inovasi adalah memperkenalkan ide baru, barang baru, pelayanan baru dan cara-cara baru yang lebih bermanfaat. Amabile et al. (1996) mendefinisikan inovasi yang hubungannya dengan kreativitas adalah: Inovasi atau innovation berasal dari kata to innovateyang mempunyai arti membuat perubahan atau memperkenalkan sesuatu yang baru.
Model inovasi yang digunakan adalah light trap atau jebakan lampu bagi hama tanaman bawang merah. Teknologi light trap lebih efektif dibandingkan dengan teknologi terdahulu ialah dengan melakukan penyemprotan menggunakan peptisida untuk membasmi hama ulat.
Wall trend 9:38 PM New Google SEO Bandung, Indonesia
pengendalian hama terpadu pada komoditas bawang merah dengan menggunakan sistem perangkat lampu
Posted by pengendalian hama terpadu on Friday, November 27, 2015
PENGENDALIAN HAMA DAN PENYAKIT PADA TANAMAN BAWANG MERAH
![]() |
| bawang merah |
HAMA PADA TANAMAN BAWANG MERAH
Ulat Tanah (Agrotis ipsilon Hufn.)
Larva ulat tanah aktif menyerang tanaman bawang merah pada malam hari dengan cara memotong pangkal batang tanaman muda. Sedangkan siang harinya larva ulat bersembunyi di dalam celah-celah tanah, biasanya dengan posisi tubuh melingkar. Pengendalian hama ini secara kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif karbofuran. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Hama Putih (Thrips tabaci Lind.)
Siklus hidup Thrips berlangsung selama 3 minggu. Di daerah tropis, siklus hidup Thrips hanya berlangsung selama 7-12 hari, sehingga dalam satu tahun dapat mencapai 5-10 generasi. Setiap ekor Thrips betina dapat menghasilkan telur sebanyak 80-120 butir selama hidupnya. Gejala serangan dapat diamati pada daun muda atau pucuk daun. Nimfa dan imago menyerang tanaman bawang merah dengan cara menghisap cairan daun. Bagian tanaman terserang akan ternoda berwarna putih mengkilap seperti perak, kemudian berubah menjadi kecoklatan berbintik hitam. Serangan berat menyebabkan tanaman mati serta umbi yang dihasilkan berukuran kecil bermutu rendah. Pengendalian hama Thrips menggunakan insektisida berbahan aktif abamektin, tiametoksam, imidakloprid, asetamiprid, klorfenapir, sipermetrin, atau lamdasihalotrin. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Ulat Bawang
Ulat bawang tanaman bawang merah adalah Spodoptera exiqua. Larva ulat bawang menyerang tanaman bawang merah dengan cara membuat lubang pada daun bagian ujung, kemudian masuk ke dalam daun dan memakan daun bagian dalam tetapi epidermis bagian luar tetap dibiarkan, akibatnya daun tersebut tampak bercak-bercak berwarna putih, apabila diterawang tembus cahaya. Jika populasi ulat bawang sangat banyak dapat menyerang umbi bawang merah. Pengendalian kimiawi menggunakan insektisida berbahan aktif sipermetrin, deltametrin, profenofos, klorpirifos, metomil, kartophidroklorida, atau dimehipo. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH
Layu Fusarium
Layu Fusarium menyerang tanaman bawang merah pada bagian dasar umbi lapis, sehingga pertumbuhan akar dan umbi bawang merah terganggu. Gejala serangan dapat diamati secara visual, yaitu daun menguning cenderung terpelintir, tanaman mudah dicabut karena akar membusuk. Pada dasar umbi terlihat cendawan putih, sedangkan pada umbi lapis jika dipotong membujur terlihat pembusukan yang berawal dari dasar umbi kemudian meluas ke atas maupun ke samping. Tanaman mati mulai dari ujung daun kemudian menjalar hingga ke pangkal daun. Upaya pengendalian yang dapat dilakukan antara lain meningkatkan pH tanah, memusnahkan tanaman bawang merah yang terserang, melakukan penggilirantanaman serta penyemprotan kimiawi menggunakan fungisida berbahan aktif benomil, metalaksil atau propamokarb hidroklorida. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Ngelumpruk
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Stemhylium vesicarium (Wallr Simmons). Gejala serangan penyakit ngelumpruk pada tanaman bawang merah adalah terdapat bercak kekuningan yang tumbuh sangat banyak pada seluruh bagian tanaman. Penyebaran penyakit berlangsung sangat cepat sesuai dengan arah bertiupnya angin di areal pertanaman. Cendawan Stemhylium vesicarium mampu mematikan tanamansecara serentak. Kumpulan tanaman yang mati serentak terlihat seperti tersiram air panas. Pada kondisi kelembaban udara tinggi dan berangin, maka infeksi dapat secara tunggal maupun berasosiasi dengan cendawan Alternaria porri. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Bercak Cercospora
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Cercospora duddidae (Walles). Gejala serangan penyakit bercak Cercospora pada tanaman bawang merah adalah terjadinya bercak klorosis pada ujung daun dan sering tampak terpisah dengan infeksi pada pangkal batang. Daun tampak belang-belang. Bercak klorosis berbentuk bulat berwarna pucat dan bergaris tengah 3-5 mm. Pusat bercak berwarna cokelat serta terdapat bintik-bintik yang merupakan konidiofora jamur. Pengendalian secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Bercak Alternaria
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Alternaria porri (Ell.) Cif. Gejala serangan penyakit bercak Alternaria pada tanaman bawang merah adalah adanya bercak pada daun dengan pusat bercak berwarna ungu atau lebih gelap. Pada daerah tersebut dapat ditemukan konidiofor yang mampu berkecambah membentuk konidiospora. Infeksi awal pada tanaman bawang merah ditandai adanya bercak berukuran kecil, melekuk ke dalam, berwarna putih dengan pusat bercak berwarna ungu atau abu-abu. Apabila cuaca lembab, bercak berkembang hingga menyerupai cincin, bagian tengahnya berwarna ungu dan tepinya kemerahan serta dikelilingi warna kuning yang dapat meluas. Ujung daun mengering atau bahkan patah. Permukaan bercak pada akhirnya berwarna cokelat kehitaman. Serangan parah berlanjut ke umbi, menyebabkan umbi membusuk berwarna kuning lalu menjadi merah kecokelatan. Umbi membusuk dan berair dimulai dari bagian leher, kemudian jaringan umbi yang terinfeksi mengering serta berwarna gelap. Penyakit bercak daun Alternaria porri dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Embun Bulu
Penyakit ini disebabkan oleh cendawan Peronospora destructor (Berk) Casp. Serangan cendawan Peronospora destructor bersifat sistemik dan lokal. Gejala serangan penyakit embun bulu pada tanaman bawang merah terjadi pada awal pertumbuhan. Infeksi terlihat terutama saat daun basah terkena embuh, terlihat warna putih menyerupai bulu-bulu halus. Apabila tanaman mampu bertahan hidup, maka pertumbuhannya akan terhambat, daun berwarna hijau pucat. Infeksi pada daun mampu menyebar ke bawah mencapai umbi lapis, kemudian menjalar ke seluruh lapisan hingga berwarna cokelat. Penyakit embun bulu dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah klorotalonil, azoksistrobin, atau mankozeb. Dosis/konsentrasi sesuai petunjuk pada kemasan.
Antraknosa
Antraknosa pada tanaman bawang merah adalah cendawan Colletrotichum gloespoiroides Penz. Kerusakan tanaman bawang merah akibar serangan penyakit antraknosa bisa mencapai 50-100%.Penyakit ini sangat berpotensi menimbulkan kegagalan. Gejala serangan dapat dilihat secara fisiologis,tanaman mati serentak secara cepat. Serangan awal ditandai adanya gejala bercak putih pada daun, selanjutnya akan terbentuk lekukan ke dalam (invaginasi), berlubang dan patah karena terkuai tepat pada bercak tersebut. Jika serangan berlanjut akan membentuk koloni konidia berwarna merah muda, lalu berubah menjadi cokelat tua, dan akhirnya menjadi kehitaman. Umbi akan membusuk serta daun mengering. Penyakit antraknosa dapat dikendalikan secara kimiawi menggunakan fungisida sistemik, contoh bahan aktif yang bisa digunakan adalah benomil, metil tiofanat, karbendazim, difenokonazol, atau tebukonazol dan fungisida kontak
Pengendalian Hama Dan Penyakit Pada Tanaman Bawang Merah
Posted by pengendalian hama terpadu on Friday, November 20, 2015
Hama & Penyakit Pada Bawang Merah
![]() |
| BAWANG MERAH |
HAMA DAN PENYAKIT PADA BAWANG MERAH
Pada usaha pertanian khususnya hortikultura, sangatlah penting langkah-langkah dalam penanggulangan hama dan penyakit.
Jika masalah ini tidak segera teratasi, masalah produktivitas akan menurun tajam bahkan bisa terancam gagal panen.
Sudah seyogyanyalah para petani bawang merah untuk mewaspadai masalah hama dan penyakit tersebut. Berikut ini akan kami berikan macam-macam hama dan penyakit yang menyerang tanaman bawang merah beserta pencegahannya.
ULAT BAWANG
Gejala :
Gejala serangan ditandai dengan bercak putih transparan pada daun, karena daging daun dimakan ulat.
Pengendalian :Pengendalian dapat menerapkan konsep PHT, antara lain : secara mekanik dengan mengumpulkan dan memusnahkan telur dan larva yang biasa disebut jempoli. Sedangkan penyemprotan dengan insektisida efektif dan selektif mulai dilakukan bila kerusakan tanaman mencapai 5%.
Frekuensi penyemprotan 2 - 3 hari sekali atau tergantung kondisi serangannya. Sebaiknya menggunakan pestisida secara bergantian dan agar dihindari mencampur bermacam-macam insektisida menjadi satu karena tidak efektif serta takaran yang digunakan tidak perlu berlebihan.
Sebaiknya menggunakan takaran sesuai petunjuk penggunaannya pada masing-masing obat. Selain itu dapat memasang perangkap yang dilengkapi dengan sex feromon untuk menangkap serangga jantan, sejumlah 40 perangkap / ha.
Perangkap dapat berupa botol plastik berlubang kecil dan didalamnya diikat satu tangkai sex feromon, yang dapat diganti sebulan sekali.
Dengan demikian serangga jantan akan tertangkap sehingga perkawinan akan berkurang dan mengurangi populasi ulat.
PENYAKIT LAYU FUSARIUM
Gejala :Penyakit ini ditandai dengan tanaman kurus kekuningan dan busuk pangkal serta akarnya sehingga tanaman mudah tercabut.
Pengendalian :Tanaman yang terserang harus segera dicabut dan dimusnahkan. Untuk pengendalian dapat dilakukan dengan memberikan obat / fungisida pada tanah sebelum tanah ditanami.
BERCAK UNGU
Gejala :Ditandai dengan adanya bercak putih dengan pusat keunguan pada daun.
Pengendalian :Pengendalian dengan cara menyiram tanaman setelah turun hujan atau terkena embun, untuk mengurangi spora penyakit yang menempel pada daun. Selain itu dapat menggunakan fungisida selektif dan efektif.
ANTRAKNOSE
Gejala :Tanaman yang terinfeksi akan mati dengan cepat dan mendadak. Pada daun terlihat bercak berwarna putih, selanjutnya terbentuk lekukan ke dalam, berlubang dan patah.
Pengendalian :Penyakit ini cepat sekali menular, sehingga harus segera digunakan fungisida yang efektif dan selektif.
Sebaiknya penyemprotan terhadap hama dan penyakit dilakukan sebelum matahari terbit atau sore hari dengan arah penyemprotan searah angin dan penyemprotan tepat mengenai tanaman / sasarannya sehingga pestisida yang disemprotkan tidak terbuang percuma dan lebih efisien.




